Breaking News

Sumbangan Rokok Pada Kemiskinan Jambi

 


OPTIMALNEWS.ID, Jambi - Pada awal Agustus kemarin BPS Provinsi Jambi telah merilis angka kemiskinan Jambi, berbarengan dengan indikator-indikator makro lainnya. Pada kesempatan rilis tersebut, Kepala BPS Provinsi Jambi menyampaikan angka kemiskinan Jambi turun dibandingkan dengan kondisi tahun 2021.

Angka kemiskinan Jambi yang pada maret 2021 kemarin berada pada angka 8,09 persen menjadi 7,62 persen di maret 2022. Turunnya kemiskinan Jambi ini sejalan dengan kondisi makro ekonomi Jambi yang semakin membaik. Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga mengalami percepatan (5,71 persen), tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang turun sebesar 0,39 persen poin dan NTP maret 2022 yang juga naik.

Dari data yang disajikan pada rilis BPS tersebut, ada satu fenomena yang menarik dimana rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar pada garis kemiskinan Jambi. Bahkan di daerah perkotaan, sumbangannya merupakan yang tertinggi mencapai 15,77 persen, sedangkan di daerah perdesaan sedikit di bawah komoditi beras.

Merokok sudah menjadi kebiasaan sebagian penduduk Jambi. Berdasarkan data BPS, persentase penduduk Jambi berumur 5 tahun ke atas yang merokok mencapai 21,30 persen. Lebih fantastis lagi bila dilihat dari jenis kelamin, persentase laki-laki yang merokok sangat besar sekitar 41,42 persen, sedangkan perempuan hanya 0,63 persen.

Rata-rata dalam satu minggu, seorang perokok laki-laki di Jambi akan menghabiskan 49 batang rokok, atau dalam satu harinya sebanyak 7 batang rokok. Ini angka konsumsi yang luar biasa untuk komoditas yang tidak menyumbang kalori bagi tubuh. Seperti diketahui untuk penghitungan garis kemiskinan makanan itu disetarakan dengan 2100 kilo kalori perkapita perhari.

Dari fakta diatas apakah dapat dikatakan konsumsi rokok menjadi penyebab kemiskinan? Mungkin iya sebagai salah satu penyebab kemiskinan di Jambi, akan tetapi kemiskinan sebenarnya merupakan permasalahan multidimensional. Kemiskinan dibentuk oleh banyak faktor, sebut saja faktor sejarah, sosio kultural, pendidikan, ekonomi, keluarga, kesehatan dan masih banyak faktor yang lainnya.

Coba bayangkan jika para suami di keluarga miskin tersebut berhenti mengkonsumsi rokok, maka akan ada keluarga yang dapat keluar dari kemiskinan. Dan itu tidak mustahil ketika kesadaran muncul dari setiap individu penduduk Jambi. Karena merokok bukan hanya mengganggu kesehatan, akan tetapi merokok juga menyebabkan keluarga menjadi rentan miskin.

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak merokok, ada beberapa hal perlu dilakukan oleh pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Jambi. Pertama sosialisasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Di dalam salah satu target PHBS adalah berkurangnya perilaku merokok pada masyarakat. Edukasi terus menerus kepada masyarakat tentang rokok dan bahayanya bagi kesehatan harus dilakukan. Dunia pendidikan menjadi media terbaik untuk sosialisasi.

Kedua perlu adanya pembatasan usia orang yang boleh membeli rokok. Jangan sampai anak-anak dan pelajar dapat dengan mudah memperoleh rokok di pasaran. Ketiga meningkatkan aktivitas positif dari anak-anak muda Jambi dengan kegiatan olahraga, berorganisasi, pramuka, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Dan keempat menyediakan ruang-ruang publik dan wadah-wadah kegiatan yang dapat menampung kreativitas pemuda Jambi. Ke depan, kreatifitas-kreatifitas anak muda yang akan mendominasi perekonomian Indonesia, melalui sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan data yang dipublis oleh kemenparekraf pada 2019, ekonomi kreatif menyumbang 7,30 persen terhadap total PDB Nasional.

Semoga dengan perhatian pemerintah dan kerjasama semua pihak, masyarakat Jambi akan semakin sejahtera dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang semakin baik. Demikian, salam.


Penulis
Nama: Nopriansyah, SST, MSi
Jabatan : Statistisi BPS Provinsi Jambi

0 Komentar

© Copyright 2022 - Optimalnews.id | Media Online